Sunday, 4 June 2017

Si Peminta

Modul Kulit adalah modul yang terkenal detil dan perfeksionis. Belum saja modul dimulai, jadwal ujian beserta penguji sudah keluar saja di hari pertama. Gemetar tubuh ini saat aku melihat jadwal pengujiku. Kami diuji oleh 2 penguji. Salah satu pengujiku masuk di daftar penguji "red flag", istilah penguji killer yang perlu diwaspadai versi anak FK.

"Dek, kamu kurang doa ya?" bahkan seorang PPDS berkata demikian kepada teman saya yang sama-sama mendapat penguji killer. Ah..masa iya? pikirku dalam hati.

Hari demi hari terus berlalu hingga Bulan Ramadhan pun tiba. Ujian kami memang diselenggarakan di awal bulan suci ini.

Sementara itu, hari demi hari bayangan penguji killer itu muncul di benakku. Setiap berbuka dan setelah qiyamulail aku berdoa, "Ya Allah.. permudahlah jalanku untuk menyelesaikan pendidikan ini. Lunakkanlah hati pengujiku, kalau perlu ganti pengujiku dengan penguji lain yang lebih baik hati, ya Allah"

Setiap hari doa itu aku panjatkan. Awal mula aku meminta, doa itu terdengar kekanak-kanakan sekali, ke duniawi-an sekali. Seperti anak kecil yang merengek minta mainan ke orang tuanya. memalukan.
Aku tau, seharusnya kalau mau lulus ujian ya harus belajar keras. Kalau tidak lulus, berarti usahaku kurang keras. Pikiran ini membuatku sungkan berdoa kepada Allah. Namun, aku sungguh tidak ingin mengulang dan memperlama studiku. Alhasil doa ini selalu terselip di antara doa-doa yang aku panjatkan setiap berbuka.

Menjelang ujian, aku benar-benar risih. Aku suruh semua orang yang ada di rumah untuk mendoakan keberhasilan ku. Aku meminta kakakku untuk membantuku belajar. Ya, aku terkadang se-khawatir itu.

Saat hari H ujian, aku datang lebih pagi dari biasanya. Kami yang diuji dengan dosen yang sama duduk berdekatan sambil mengulang-ulang materi yang akan diuji. Menjelang waktu yang akan ditentukan, penguji redflag ini berjalan melewati kami menuju ke tempat ujian. Deg!

Jantungku berdegub sangat kencang. kedua kaki ku lemas. peluh bercucuran di sekujur tubuhku. Dalam kegentingan ini, tak hentinya aku berbisik kepada Allah "ya Allah, mudahkan..mudahkan. Lembutkanlah ia hari ini ya Allah". Aku benar-benar seputus asa itu.. Mungkin karena aku memiliki banyak pengalaman diuji oleh dosen paling killer se-departemen dan beberapa di antaranya tidak berjalan mulus.

Satu persatu urutan sebelumku dipanggil masuk ke ruang ujian. Aku urutan terakhir. Setelah 30 menit, urutan pertama keluar. "baik bangettt njiirr.. dan cepet banget. sumpah baik bangett bener-bener baik." tutur temanku yang urutan pertama itu. Setelah itu, temanku urutan kedua dan ketiga juga berkata demikian. Mereka terheran-heran karena apa yang mereka rasakan berbeda dengan "cerita-cerita" teman-teman kami di rombongan sebelumnya.

Hingga akhirnya temanku urutan keempat dipanggil masuk. Penguji redflag kami pergi ke toilet kemudian tampak mengangkat panggilan telepon. Lama beliau berbincang melalui telepon nya. Setelah menutup panggilan, beliau bergegas menjauhi ruang ujian. Beliau berjalan dan terus berjalan hingga punggungnya tak lagi dapat kulihat, menghilang dibalik tembok. Beliau pergi.

Tinggallah satu penguji di dalam ruang ujian. Penguji yang menurut banyak orang adalah penguji yang sangat baik. Alhamdulillah ujian dapat kulalui dengan lancar.

Selesai ujian, tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur. Allah mengabulkan kedua doaku sekaligus!! Di luar dugaan, pengujiku sangat baik sekali saat menguji teman-temanku. Dan yang kedua, aku sungguh tak mengira pengujiku akan diganti. Allah memang selalu memiliki cara untuk menolong hambaNya bahkan saat kita berpikir tidak mungkin sekalipun.

Aku teringat sebuah ceramah. Allah itu tidak seperti manusia. Kalau kita minta-minta kepada manusia, manusia itu akan dongkol dengan kita. Tapi tidak dengan Allah. Allah Maha Kaya, Maha Berkehendak, dan Maha Dermawan. Allah senang jika hambaNya berdoa, merengek kepada Nya. Justru saat kita enggan berdoa, Allah akan marah karena itu menandakan kita terlalu sombong atau kita menganggap Allah pelit. Apapun itu, utarakan kepada Allah. Yang terpenting bukanlah dikabulkan atau tidaknya doa kita, tetapi nikmatnya kita meminta dan berkomunikasi dengan Allah.

Jadi, jangan pernah berkata "eh masa kayak gini minta ke Allah sih.." lagi. Rabb kita sangatlah dermawan.

Jangan malu minta sama Allah, tapi malulah saat kita minta-minta ke manusia.

Selamat berdoa :)

Sunday, 26 March 2017

Everybody makes mistakes

Penyesalan itu terus ada
Saat mengingat kekurangan dan kelalaian diri
bergetar rasanya hati ini
Saat teringat kata-kata yang pernah diucapkan,
keangkuhan dan kotornya hati
Hancur harapan untuk membenahi diri
Terlalu banyak kesalahan, terlalu banyak kelalaian

.....Malu

Melihat bayangan sendiri pun aku tak sanggup
Ah, manusia..
Betapa mudahnya ia melakukan kesalahan
Betapa lemah hati ini terhadap nafsu

Amarah..yang melesat bagai panah-panah yang terlepas dari busurnya
Dengki..yang menggerogoti tubuh ini sedikit demi sedikit

Andaikan manusia ini tak pernah terlahir di bumi
Perjuangan ini tak akan pernah dimulai 
Dan juga tak akan pernah ada kekalahan
Tapi siapakah aku untuk memilih?
Mengapa lantang sekali mendustai nikmatnya?

Setiap manusia adalah tempatnya salah
Dan memaafkan diri sendiri adalah loncatan pertama 
yang bisa membawamu keluar dari kungkungan itu

Maka berikanlah kepercayaan kepada dirimu sendiri
untuk memperbaiki kesalahannya
Jangan engkau remehkan dirimu 
Jangan engkau remehkan orang lain
Mereka pun masih ada yang punya hati
yang mau menarik mu dari lubang itu
karena hidup ini adalah suatu pembelajaran

Maka genggamlah erat orang-orang yang berada di depan mu
yang menarik dan membawamu menuju perubahan
Dan rangkullah orang-orang di belakangmu
yang mau menopangmu saat kau jatuh

Dan mintalah kepada Rabbmu
karena ampunannya seluas mata memandang

Percayailah dirimu sendiri..
kita pasti bisa
membuat perubahan yang nyata :)



*NB: postingan ini didedikasikan untuk teman-teman dan keluargaku yang selalu setia mendukungku untuk menjadi lebih baik :)
Juga untuk siapapun yang sedang berusaha untuk berubah.. kamu tidak sendirian :)

Tuesday, 9 August 2016

Lepaskanlah

Sekarang yang tersisa hanya kenangan
Kenangan sekian juta detik yang kuhabiskan bersama mu

Andai 1 hari bisa diputar,
Menyesal..
Mengapa kuutamakan angka dibanding kehadiranmu
Sekadar menemani mu menonton pelangi di langit sore

Menyesal..
Mengapa terucap kata tidak saat kau membutuhkanku
Padahal tak sebaliknya dari mu

Meski tak jarang kita bertengkar
Sayapmu terbentang lebar melindungiku
Raungan mu lebih galak dari singa
Saat ada yang berusaha menyakitiku

Kau ajarkan kepadaku
bahwa cinta memang patut dipertahankan
Orang-orang yang kita cintai,
memang patut dibela hingga mati
bahwa darah tidak pernah mengkhianati
Baiti, jannati

Jika waktu bisa diputar,
Akan kuresapi detik-detik bersamamu
Pergi ke tempat yang kauinginkan
menghabiskan waktu bersama

Ternyata benar,
kenangan yang terlalu manis
bisa menjelma menjadi tangis

Semestinya tiada kata akhir untuk pertemanan
Semestinya tak bisa hilang dari ingatan
canda-tawa, mimpi, cita, dan cinta

Jangan lepaskan genggamanmu
perbedaannya hanya kini,
kau tak lagi milikku

Wednesday, 16 March 2016

Keberanian

Helloo readers! udah lama yaa blog ini nggak aktif. Highlight nya adalah gw sekarang udah memasuki dunia klinik. Artinya, gw mempraktikkan apa yang gw pelajarin saat kuliah ke pasien beneran. Kita nggak dilepas sendirian gitu aja, tapi disupervisi sama residen a.k.a PPDS (dokter yang sedang mengambil program spesialisasi) dan konsulen (dokter senior yang udah jago banget deh).

Di post kali ini, gw cuma mau cerita suatu kisah sangat patriotik yang membuat gw terharu :"

Jadi ceritanya, gw lagi rotasi di suatu departemen (sebut saja B**V) dan setiap hari Selasa ada ronde (keliling semua pasien) PPDS bersama konsulen. Konsulen-nya terkenal sangat killer. Koas pun diajak ronde.

Sehari sebelum ronde dimulai, kami -para koas dengan kepala hipersonor- udah duluan visit pasien dan ngafalin semua kondisi terakhirnya karena kita bakal ngebawain pasien tsb ke konsulen. Udah simulasi juga.

Jam 06.15 kami udah nongkrong di depan pintu departemen. No telat! padahal rondenya jam 7. Pkl 6.55 sang konsulen muncul dari balik pintu dengan cepat bak anak panah keluar dari busurnya, diikuti rombongan PPDS di belakangnya.

Dengan jantung berdegup-degup kencang, koas bebek mengikuti rombongan (persis kayak mo parade tujuhbelasan). Bersyukur kita disuruh tunggu di gedung rawat inap. Dengan mulut yang tak henti-hentinya komat-kamit menghafal syair SOAP, kami menunggu di depan kamar pasien.

30 menit menunggu, rombongan ronde datang dari ujung lorong. Rasanya pengen pinjem invisible cloak nya Harry Potter aja. Presenter membawakan SOAP pasien dengan baik dan lancar. Namun, belum selesai semua dibawakan, konsulen memotong dan mulai tanya-tanya.

Menurut gw sih temen gw udah menjawab dengan baik. Namun, sang konsulen tidak puas. Jadilah kita kena semprot. Sampe pada bagian klimaksnya.....

Konsulen (K)     : "Lu kan udah gue suruh belajar kemaren. Lu belajar nggak?"
*hening....* Kemudian ada salah satu dari kami yang memberanikan diri untuk menjawab
Dek Koas (DK) :  "Belajar, dok. Tapi yang kami pelajari memang seperti yang si xxx bilang"
K    : "Sama siapa lu belajar? Sebut namanya" (doi minta nama PPDS yang ngajarin kita)
DK : "hmm... *ragu menjawab*...
K    : "Jawab! sama siapa lu belajar?"
DK : "hmm......waktu itu kami belajar bareng-bareng aja sih, dok" --> ceritanya nggak mau numbalin PPDSnya
K    : "Kan gue udah bilang! Belajar nya didampingin sama PPDS!"
DK : "oh iya, dok. Ada PPDSnya
K    : "Siapaa?"

"SAYA DOK"

Semua wajah yang tertunduk (baik PPDS maupun koas) nengok ke arah sumber suara (termasuk gw). Dia adalah chief PPDS yang emang bertanggung jawab ngajarin kami. Dan dari kemarin pun udah ngajarin kami. Tapi kami nya aja yang nggak kepikiran buat nanya-nanya sejauh yang konsulennya bakal tanyain.

Salut sama keberanian sang PPDS buat mempertanggungjawabkan kewajibannya. Setiap inget kejadian ini, yang terbayang di otak gw adalah.... film Hunger Games scene pemilihan tribute. Saat semua orang pada takut dan nggak mau kena semprot, si PPDS ini dengan berani maju ke depan. Persis Katniss Everdeen pas bilang, "I volunteer..!"

Akhirnya PPDS berinisial R itu kena semprot deh.. untungnya nggak diusir dari rombongan.

Makasih yaa dok atas supportnya. Semoga studinya lancar dan ilmunya berkah. Keep being like Katniss Everdeen hehehehe

Friday, 11 March 2016

Privacy

I wanted to tell everything to you.
I wanted a friend that I can talk to.
And since it's you, I thought I can share my problems and my life.
But through out my dark days in the past,
I only saw you as my teacher.

Teachers assess, they give scores.
And I didn't want to look like a stupid student you always disgrace.
Maybe I wear too much pride on my face.
Or I had too much expectation on you.

So I sorted out things I allow and didn't allow you to see
I chose to hide my feelings
I chose to savor the torment

But I guess I survived
and I forgot how much I wanted to make friend with you
I buried down that wish as I evolved to be
...a more self-dependent person
I've become tougher!

I built a wall so I won't lean on you too much
I learned how to stand up tall on my feet
Unexpectedly.. i like it that way

I like to keep everything for myself
I don't have to put some efforts,
trying to make you understand
I don't have to explain
or listen
or be hurt

I just need my own space
Where there's only me
For me to clear out my minds
So I can manage my feelings and thoughts

I just need my own space
because sometimes 


walls listen better than ears

Friday, 4 September 2015

Random Thoughts #1 : Misteri Masa Depan

Heloo readers!!

Udah lama yak gue nggak ngepos di blog ini. Udah lupa gimana caranya nulis (emang pernah tahu, Sar?).

Dan selama absen ngepos ini gw banyak berubah. Sueerr!
Idealisme gw semakin terkikis. #Oh noo dimana sarah yang dulu?!

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Anyway, readers kalo denger "Misteri Masa Depan" langsung terbayang apa?
Lemme guess.... hutan, malam, kabut.. kayak gini?


Plis ah ngeliatnya aja gw merinding. Nggak kok. Posting gw kali ini lebih down-to-earth dan aplikatif untuk rakyat jelata seperti diriku ini. So..here it is.

1. Kita nggak tau apa yang bakal terjadi di masa depan. Bisa jadi kita dikasih nikmat yang berlimpah sama Allah, bisa juga malah dapet cobaan dan musibah. Sayangnya, kebanyakan manusia cenderung lebih siap untuk hidup enak, tapi gak siap untuk hidup melarat. Jangan terlalu lama ngendon di zona aman dan jangan terlalu banyak gaya wkwkwk. Coba deh pikirin gimana caranya supaya survive di segala kondisi. Gimanaa ya caranya? 

Mitigasi bencana!!! (Alhamdulillah.. berguna juga nih kuliah IKK) mitigasi bencana adalah penanggulangan bencana yang tujuannya mengurangi dampak yang diakibatkan. Gimana caranyaa?

1. Brainstorming dulu bencana apa yang mungkin lw hadapi
2. Planning..!
- Predisaster phase : Cari tau faktor modifiable & un-modifiable dari bencana itu. Ubah apa yang bisa diubah
- Disaster phase : Pikirin apa yang harus dilakuin saat bencana itu terjadi. Siapa yang pegang komando? Siapa yang ngatur keuangan? Siapa yang ngatur logistik?
- Post disaster phase : Cari tau kira-kira dampak dari bencana itu apa? Trus gimana cara mengurangi risikonya?
3. Ngegaet stakeholder.. tentunya lw nggak bisa ngadepin masalah sendirian. Butuh bantuan temen, keluarga besar, atau yang lainnya.
4. Training...!! Coba adain simulasi bencana. Misalnya, bencana ekonomi (?), tau-tau nggak punya uang. Harus mesti bingit latihan hemat. Yang tiap hari naik mobil, sesekali cobain naik kereta deh. Kalo tiap hari masih jajan, coba bawa bekel.  syedaap

*kok gw jadi kayak ngasih kuliah odong-odong gini ya? :/*


2. Kita emang gak tau apa yang bakal terjadi di masa depan, tapi jangan sampe kekhawatiran itu menghabiskan waktu kita saat ini. Seseorang pernah bilang gini, "masa lalu udah lewat, kita gak bisa ngubah apa-apa. Sedangkan, masa depan belom terjadi, nggak bisa diotak-atik juga. Satu-satunya yang kita punya adalah SAAT INI, dimensi di mana kita berada. So.. enjoy the moment. Selese-in juga masalah yang SEKARANG lagi dihadapin, yang ada di depan mata..baru deh pikirin masalah yang ada nun jauh di singapur sana. (ga nyambung ah)


3. Nikmati dan syukuri apa yang kita punya saat ini. Don't take anything for granted cause we never know when we will run out of time... (nyuri kata-katanya Mbak Meghan gapapa lah yaa :v)
Intinya, jangan sia-siakan apa yang kita punya saat ini. Hargain, dijaga baik-baik, dirawat, diapresiasi.
Kita nggak tau, besok masih bisa nikmatin hal itu lagi, nggak?
Kita gak tau, apakah besok kita masih bisa tinggal di rumah yang nyaman ini lagi nggak?
Kita gak tau, apakah besok kita masih bisa ketemu orang-orang tercinta lagi nggak? LOH KOK JADI BAPER. Iyaa, jadi baper.. apalagi kalo mikirin orang tua dan keluarga. Pengen dipeluk satu-satu rasanya. Walaupun sering dibikin kesel (atau bikin kesel ya?) tapi yaa gitu, terkadang kita take them for granted. Padahal mereka nggak selamanya ada di sini :(


Yaudah ah sekian aja curhat baper nya
Semangaattt H-5 Ujian Modul IKK
Doakan aku yaaaa...! ^_____^

Saturday, 8 August 2015

Bodoh dan Gila, itu Beda Tipis

Satu, dua detik, hingga si pendek pun lelah berputar 3 kali
Hawa dingin mulai terasa di ujung-ujung tangan dan kaki
Bagaimana tidak? Tak ada panas yang dihasilkan dari berdiam diri duduk di sini, sendiri.
Teman menungguku hanya patung itu,
yang sama-sama menunggu untuk dibebaskan.

Orang-orang berlalu-lalang, sibuk dengan urusan pribadinya;
ada yang sibuk dengan hari besar mereka,
ada yang sibuk menata masa depannya,
ada yang berjuang menggapai mimpinya.

Semua kecuali aku.
Akulah yang tak jelas arah dan tujuannya.

Wahai jiwa, apa yang kau inginkan?
Mengapa begitu rela berkorban?
Rela melakukan hal-hal gila dengan kesudianmu sendiri
Rela memberikan waktumu untuk dihabiskan
Rela memberikan gelasmu untuk dipecahkan

Semuanya itu kau gadaikan
Hanya untuk gemerlap sesaat yang tidak sebanding dengan kasih dan sayang

Kau tahu tak ada tempat bagimu di sini
tapi tetap kau paksakan
Seperti tak punya harga diri, memalukan!
Berkacalah, wahai jiwa...
Memanganya kau ini siapa?
Punya apa?
Otakmu di mana?

Kalau terus begini, wajarlah kau selalu tertipu
Karena kau terlalu dermawan memberikan kepercayaanmu
Padahal hukum rimba tak pernah memenangkan orang-orang yang menunggu
Dan tingginya harapanmu
Melampaui realita yang dapat diukur dengan logika
Mana mungkin dia mau melakukan hal gila se-gila yang kaulakukan?
Mana mungkin dia memberikan lebih dari yang kauberikan?

Mungkin kau telah gila
Kau ini gila karena berpikir semua rencana detilmu itu mungkin terjadi
Tapi beginilah adanya,
Berkali-kali ditipu oleh angan-angan sendiri

Tapi tenanglah..
Kali ini takkan kubiarkan dirimu kau cederai
Akan kutunjukkan betapa lelahnya mengarungi dunia mimpi
Kau akan terbangun dan segera sadar
Bahwa penantian ini sia-sia
Jadi lebih baik, kau pulanglah saja

Kita punya banyak hal untuk dilakukan
Banyak hal yang lebih berharga untuk diharapkan
Tapi kau harus mengatur fokusmu
Meskipun harus berjalan menjauh kemudian berlari
tergopoh-gopoh jatuh kemudian bangkit lagi
Karena kalian memiliki dunia sendiri-sendiri

Tenanglah, kamu begini bukan karena dia
Tapi karena kamu terlalu pandai berimajinasi
Dan menganggap duniamu sebagai taman mimpi

Tidak, bukan begini caranya
Bagaimana bisa didengar jika tak bersuara?
Ah lupakanlah, sayang
Kali ini aku yang salah
Dan setiap yang bersalah harus membayar hukumannya

Tuesday, 26 May 2015

Terlalu Berharga Untuk Dilupakan

Singkat cerita, setelah melalui hari yang panjang dengan segala drama kehidupan yang ada di dalamnya, seorang kawan menasihati. Suaranya lembut tapi begitu menegarkan -- yang justru bikin air mata ini makin deras ngocor-nya --   She said,


"Sar, kamu sadar nggak? Kita ini selalu diuji di tempat terlemah kita. Sampe kita nggak lemah lagi di tempat itu, sampe kita bisa lulus, Allah bakal ngasih cobaan yang sama ke kita. Tenang aja, semua pasti ada hikmahnya, Sar. Mungkin Allah lagi menguatkan kamu di sini.
Kamu harus bersyukur, Sar, masih dikasih kecemasan. Artinya, kamu punya kemauan untuk memperbaiki kesalahan. Ada yang dapet lebih parah dari kamu tapi cuek-cuek aja.
Apa yang udah kejadian itu bukan urusan kita lagi. Porsi kita emang berusaha dan berdoa. Nggak lebih dari situ. Kalau gagal ya coba lagi dan coba lagi karena emang cuma itu yang bisa kita lakuin."


Ya emang sih, 'melepaskan sesuatu' selalu jadi bagian yang tersulit untuk gw lakuin. Tapi Allah baik, selalu ngasih kesempatan "remed" ke gw, selalu ngasih kesempatan kedua :""D
Masih banyak nikmat lain yang harus disyukuri, Sar.
Salah satunya, nikmat punya teman-teman yang selalu mengingatkan.

Emang deh mbak yang satu ini calon psikiater banget... (amiin)

Saturday, 18 April 2015

From Your Little Girl (4)

They say she always disliked you
She bent back and forth
trying to writhe out of your grip
And she'd scream and whine with all her breath
when you held her close to your ribs

Time flies
The girl who was the height of your waist
is now chasing her own dreams

If She were a river,
you'd definitely be the ocean,
a place where she'd eventually drain herself
No matter where she goes,
or what she does.

It's just that sometimes you forget
that a butterfly was once an ugly caterpillar
a rainbow always comes after rain
and a diamond is made from carbon

The pressure you put inappropriately
will slowly break the things within

Wednesday, 15 April 2015

Flight of Ideas; Being an Observer, a Good Listener, and so on

People say that introverts observe their surroundings a lot. Indeed, I can't agree more. I --and also everyone-- am actually an ambivert, but one side is usually much stronger than the other. Me, I tend to be an introvert. So, yes, I observe a lot. When I observe something, it's like I'm talking to myself.. in my head.

In a given time, I can have so many questions and comments popping up in my head that I can barely concentrate on what I'm doing. Like this, for example.. I've been planning to write an article about it for a long time and I can't concentrate on finishing my LTM before doing so.

Because of these terrible sounds inside my head (I swear to you, it's not an auditory hallucination, I'm not psychotic!) sometimes I lose track of what people are telling me. And then voila.. my family label me as a bad listener, sometimes telmi #duh.

But... I do not deny that.

You know, to be a good doctor, you have to be a good listener. So far, I still am a bad listener and I'm ashamed of it. And so I started practicing. Thankfully, in KKD (keterampilan klinik dasar or basic clinical competence) we, medstudents, are taught about how to conduct a qualified interview or anamnesis. We're taught to build rapport with patients, make the conversation flow naturally, and dig information out of the patients so we can analyze and diagnose their illness more accurately. Never thought that I'd study this kind of thing before I entered medical school. No regrets, though. So far it's really interesting and very applicable.

Here are some holes in my communication skill:

1. Names
I used to forget people's names right after they mention it! I used to think that asking someone's name was simply an obligatory question before you start a conversation with somebody. So, when my partner mention their name, instead of listening to it, I was busy managing my facial expression or thinking about what question I should ask next. But now I know that I am totally doing it wrong. Remembering names is REALLY important. When you call your partner by their names, you have done the first step of building rapport with them.

--> To overcome this problem, I repeat their names after they mention it. And keep calling them by their name, not only 'bu', 'pak' or 'mbak' but 'bu XXX', 'pak YYY' or 'mbak AAA'


2. Details
By the way.. don't you know that our brain can discriminate important from non important facts of every sensory input we receive each time?  Sometimes I think that my brain needs an extra training about which ones are the important things and which ones are not.

For example.
"Dek, mama mau pergi yaa..."
"ohh iya ma, kapan? kemana?"
"mau ke rumah nenek. nanti lah, gak sekarang.. jam 2. mama mau ngambil kue dari bude kan kemarin bude jualan."

Idk, but my brain is over selective, that I only remember :
1. mama mau pergi ke rumah nenek,
2. nggak sekarang.
the rests are not important because it's none of my business.

But..... then, the next day when I talk to my mom again....
*buka kulkas* "wah.. ada blackforest.. dari siapa ma?"
"dari bude, dek"
"ohh... lah kapan bude kemari?"
"dek, kan kemarin mama ke rumah nenek buat ngambil titipan"

and I was like.. damn, I didn't pay attention to that!

--> what I do now, is simply reminding myself that I should focus on my partner when they're speaking. I must not hurriedly say "okay" or reply something before I really get what they're talking about. Looking at their face while they're talking can help a bit. Sometimes I reflect their ideas too. Anyway, I'm still learning to do it.

There are some other more, but..
I have to finish my LTM!
^___^

Sunday, 5 April 2015

Goodbye To You

Hello, readers.. or may I say stalkers?

Glad that I'm finally able to post an article again after a long vacant period!

It may be illogical, may also be irrational, but i don't care. I usually can help myself not to talk about it. (Mom, Dad, Ken, Towi I hope you don't read this post. But if by chance you do, please don't laugh at me and don't bring this topic up whenever we talk)

First of all, I must admit that having someone watching my move is definitely making me clumsy and giving me goosebumps.

But after thinking much about it, why should I be hesitant to write my feelings again? (No, Sar, you shouldn't, unless they proofread your grammar structure cause you mess up a lot :p). The thing is, I won't let anyone change the way I am without my permission. I don't want to change how I think just to please anybody. It makes me feel like a hippocrate  hypocrite. Besides, I have to practice my own preach about honesty, my pride just won't let me betray it.

-------------------------------------------------------oo0oo-------------------------------------------------------


Dear stranger, 
did you know?
It was my first time
The first time I took a step out of the cage
without anyone to watch me,
nor someone to warn me,
I let myself unguarded 
as I always will.

Did you know?
I was one step ahead when you saw me
When you were far in the distance
I noticed first,
physically as well as psychologically
in a way that I believed 
we'd see again in some other time
in the future, for sure.

when you think you know anything about me,
Just keep in mind that I always one step ahead.
So don't lie
Cause I can tell

Sunday, 15 February 2015

Bagaimana dengan Mereka?

Beberapa minggu lalu ketika gw mulai beraktivitas ke kampus lagi, gw melihat pemandangan yang berbeda di sepanjang jalan lenteng agung arah Depok. Biasanya di sisi kanan jalan itu banyak taman-taman buatan yang kecil tapi indah. Lumayan menyejukkan mata. Kalau gw dan paca lewat situ, dia pasti teriak "air terjuuun!!" dan gak bisa melepaskan pandangannya ke sisi kanan jalan sampai deretan taman itu berlalu.

Poor paca, dia nggak bisa melihat air terjun kesukaannya lagi sekarang. Ya, soalnya kios-kios pembuat taman itu sudah dihancurkan, mungkin karena letaknya di pinggir jalan kereta.

Lalu gw pun berpikir..
Mereka pindah kemana ya?

Sebenernya hal ini gak terjadi sama mereka saja. Yang gw lihat, sepertinya PT KAI atau mungkin pemda Jakarta secara umum lagi melakukan penertiban ya? Berbagai kios-kios "liar", seperti di deretan Pasar Minggu itu juga dirubuhin. Di Monas juga udah dilarang jualan. Kalau ketahuan jualan, dagangannya disita..kasihan

Melihat Jakarta tertib? tentu sangat senang. Tapi lagi-lagi gw mikir, 
Mereka pindah kemana ya?

Mereka, walaupun terlihat seperti parasit benalu yang selalu tumbuh dan tumbuh, yang kalau diusir bakal tetep dateng kayak flora normal kulit manusia, sebenernya adalah WARGA INDONESIA juga. Sebenalu apapun mereka, mereka itu punya hak juga loh, dear pejabat-pejabat tinggi Indonesia. 

Mereka juga manusia, mereka punya keluarga. Bahkan biasanya, keluarga ekonomi rendah punya anak (tanggungan) yang lebih banyak dari orang-orang ekonomi tinggi. Lalu, jika penghasilan mereka yang mungkin saat itu saja belum cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka dihilangkan, mereka mau makan apa? mereka mau bertahan hidup dengan cara apa?


Dan dari situlah gw mikir,

"dear pejabat tinggi negara.. jangan paksa mereka untuk berbuat tindakan kriminal."

Mungkin penyebab maraknya pembegalan dan kriminalitas sadis di Depok akhir-akhir ini karena sebagian dari warganya have just lost their jobs.
Secara umum, memang benar, semakin sulit untuk hidup, semakin rendah pula tingkat kesejahteraan masyarakat, semakin tinggi kecemburuan sosial, dan semakin tinggi pula angka kriminalitas.

Coba deh bayangin kalo anda jadi mereka.. 
Anda jualan tissu atau makanan ringan di pinggir jalan, sementara anda melihat orang-orang yang lebih beruntung di dalam mobilnya yang nyaman. Apa yang akan ada pikirkan?

Kesal, cemburu, merasa pemerintah tidak adil, berprasangka buruk bahwa harta yang mereka dapatkan itu haram dan harusnya buat anda, merasa bahwa harta mereka sebagian harusnya buat anda, dan lain-lain.

Apalagi kalau si orang-orang beruntung itu seolah menutup mata akan kehadiran mereka.....
Mungkin mereka akan semakin terdorong untuk melakukan tindak kriminal.


Jadi, jangan terlalu bahagia melihat penderitaan orang lain. Jangan terlalu bahagia dengan penertiban pedagang atau sebagainya.. Karena justru dari situ kitalah yang mungkin jadi korban juga.

Bayangin deh, kalau anda adalah seorang ayah dan anak anda terkena usus buntu misalnya, yang harus segera dioperasi. Tapi anda tidak punya uang untuk membayar biaya operasi. 
Apakah anda akan diam saja melihat anak anda mengerang kesakitan?
Lalu anda akan berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang banyak dalam waktu sekejap?
Percayalah, seorang Ayah akan melakukan hal apapun untuk buah hatinya
Sebesar apapun risiko dan buruknya perbuatan itu..


Jadi, bagaimana dengan mereka?
It's really frustrating to be helpless..

Semoga di kemudian hari tidak ada lagi orang-orang seperti mereka. Caranya? Preventif lebih baik. Tuntut ilmu yang bener selama masih sekolah. Supaya bisa bekerja dan dapat penghidupan lebih baik. Ajarkan etos kerja dan pantang menyerah kepada generasi muda kita.

Sunday, 1 February 2015

Word Salad

I want to dive deeper into my soul, my conscience.
Me who once thought that this could be solved easily, figure out that it actually can't.

How can you erase something that doesn't exist?

Your words are encouraging, not to mention your strong tone.
Well, unlike me, you don't have any trouble choosing the right words to say.
It's as though you know me for years, like the back of your hand.
How can they be so painfully beautiful?

I'm just asking you to stand by me cause we don't know the way it's gonna be.
Things go wrong and I need more time to set it right
Will you be there when I hit the ground?

How can I feel happy over your desperation?

What if I take the jump?
What if I can't stop crying my heart out?
Will you be running for me even if I do it for granted?

I guess I'm no longer believe in happy ending
I just don't want to keep kidding myself
before it's too late

I'm gonna slide away
and I won't look back

Thursday, 1 January 2015

Semacam Hal yang Paling Ditakuti

Nggak, gw nggak akan ngebahas kuntilanak atau dedemit, tapi gw mau bahas tentang anak. Iya, anak. makhluk krucil kecil yang lucu, imut tapi bisa jadi menyebalkan itu..!
Haha.. random banget ya? maklum lah, udah masuk usia reproduktif. Usia di mana time line lw isinya foto nikahan temen lw, update-an kehamilan temen lw atau foto temen lw dan anaknya. wkwk..

Entah ini terjadi di orang lain juga atau cuma di gw doang.
Menurut gw punya anak itu suatu keputusan yang besar. BANGET. Ini artinya bukan gw nggak mau punya anak loh.. Tapi semacam takut gagal.

Sekarang gw udah sering berinteraksi sama tuyul-tuyul kecil. Ketara banget loh mana anak yang dididik dengan baik sama orang tuanya, mana yang nggak. Anak-anak kecil yang diajarin manners, yang diajarin etos kerja, atau sifat-sifat lainnya itu beda sama anak yang dicuekin aja sama ortunya. (Atau mungkin ortunya gak cuek tapi salah asuhan aja). 

Anak itu ibarat kayu gelondongan dan orang tua itu pemahatnya. Bentuk dan wujudnya si anak ditentuin sama orang tuanya.. Singkatnya masa depan anak lw ada di tangan lw..! Serem gak sih? 
Seremnya lagi adalah emosi gw yang masih super labil. Lah gimana caranya gw ngasih mental support ke anak gw kalo emaknya aja masih ingusan begini? nanti nangis di pojokan bareng! #hiks

Pokoknya ngurus anak tuh butuh komitmen dan perencanaan yang baik banget deh ya kalo mau anaknya perfect #ups here I go again. Dari sebelom hamil aja udah harus dipikirin tuh bibit-bobotnya. Trus pas hamil harus dijaga bener-bener supaya anaknya gak lahir cacat dan kalau lahir normal usahakan normalnya yang superior hehe. Pas udah lahir, harus sabar ngajarin anak dari 0, harus bisa ngasih respons yang tepat ke tindakan yang dia lakukan (setuju-gak setuju), harus belajar cara ngelarang ke anak, belajar cara apresiasi, macem-macem deh.. (these are the hardest parts I cant seem to master). Serta detail-detail lainnya. (Pernah gak sih lw merasa kesel atau bahagia dengan sikap orang tua lw dan lw catet sebagai dos and don'ts buat nanti pas lw jadi orang tua?? I always do)

Mungkin yang lebih mikirin detail hal ini adalah calon ibu kali yaa, secara tanggung jawab utamanya ada di ibu. Kegagalan anak itu kegagalan ibu loh :(

Trus gw jadi mikir
Da aku mah apa atuh..... makan aja masih dimasakin, LTM aja kelar J-2, suka ilang-ilangan, masih nggak peka, belajar H-4 sumatif, masih plinplan, sering skip, dan bahkan ortu sendiri yang bilang gw masih belom mandiri haha.. kok berani-beraninya mikirin nikah dan punya anak?
Gak segampang itu! Masih banyak yang perlu diperbaiki. Masih ada waktu buat belajar. 

Intinya,, sebaiknya jangan memutuskan untuk punya anak sebelum lw siap dan emg bener-bener bersedia berkorban buat anak lw. (lah gw ngurus Rasya seharian aja sudah habis jiwa dan raga saya... apalagi harus ngurus anak 24/7 sampe dia gede. *mah, makasih yaa udah ngurus adek yang bandel ini :")* )

Yaa semoga jadi renungan aja..
Sampe kapan nggak siap? Mau siap karbid-an? Kasian anaknya, kasian ibunya.
Makanya berubah!

Sunday, 7 December 2014

The Unimportant Minor Details

I will always say hello to you
Put on my biggest smile for you
I will cheer you up when you feel blue
I will help you pass it through

I'm not the one to rule this tyranny
Neither am I a lady
But knowing that supporting you is my duty
I shall be a shadow to keep you company
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


For those who are and will carry the responsibility over their shoulders, I let you know that I'm rooting for you. I may not be able to do something big, but I'll do the minor details to smooth things out.

When you have nothing more to maintain
That will be my time to take a step and fly
Somehow I'll find my place to begin again

Sunday, 23 November 2014

Inspiration

It's funny how I just realized by now that you've always been my inspiration. Everything that I do, you are the reason for it, you are the driving force. I try my best to meet your expectation. why? I don't know,maybe because I'm happy to see the curve of your lips. 

It's amazing how a simple no from you can break my tears. I almost believe that you are my ticking bomb. When you explode, you always seem to make things worse. But they say the one who can hurt you the most is the one you love the most. Maybe it's because I love you too much that whatever you say matters a lot.

But you only see a rebel, which makes me really look down on me. And your tacit mouth leaves too much scars, it'll take times to heal. Right now I'm messing up, can't you see? 

No matter how hard I try, I know I'll never be your favorite. So I always hope that I'll finally meet someone who cares as much as you do. One whom I can run to, listen to every rubbish that comes out of my careless mouth, and help me put together the scratches of my tangled mind. 

Our bond is just so confusing. I don't understand how I can hate you as strong as I love you, at the same time. All those writings about you can't help me get through this and certainly can't fix the broken strings between us. 

I just hope one day I get to see that curve without me even trying.

From Your Little Girl (3)

Shiver

Dear readers...

Today was just an ordinary day.
Tomorrow I'll be starting the last module in this semester. Time flies so fast here..phew. It's good that I haven't felt too much pressure so far. I always pray for the best.

--------------- oOo ---------------

I never have any problem with being alone. You teach me how to survive by my own. You said to trust no one and so I live with that conviction. There comes time when I have to open my arms, to put others before my own. But how am I supposed to react? When all my life has been dedicated to me. How am I supposed to master altruism? When all I ever learn is egoism? Everyday I try to figure out
what goes wrong with what I 'm doing, which step that I'm missing. At this point, right now, it's just really hard not to hate this reflection off the mirror. Does this sound normal at all?

Who am I anyway..
to deserve your attention.

From Your Little Girl (2)

Sunday, 16 November 2014

Mencari Jati Diri

Dear readers,

Kalau aku sebut Mohammad Ali, tinju yang kaupikir
Jika aku sebut Bill Gates, lambang Microsoft seketika muncul
Ya, tinju dan Microsoft adalah kata yang selalu mengiringi nama mereka

Tapi, jika kusebut namamu, apa yang orang pikir?
Jika orang menyebut namaku, apa yang kaupikir?



Stereotype [n]
fixed idea of what sb/sth is like



Setiap orang memiliki stereotype, sesuatu yang paling baik ia lakukan
Sampai-sampai orang lain selalu mengingatnya,
Sampai-sampai orang lain mengencapnya dengan sesuatu itu

Dan aku ingin stereotype orang terhadapku
adalah sesuatu hal yang paling aku gemari
satu hal yang paling bisa kulakukan

Tetapi bahkan hingga saat ini aku masih mencari
One thing that I'm best at

Wednesday, 5 November 2014

Hingga Akhir Hayat

Ilmu-Mu terlalu luas untuk kupahami,
terlalu dalam untuk kuselami
Tetapi semakin kumenyusurinya,
semakin aku terkesima dibuatnya
semakin aku terpaut padanya
Untuk itu, mudahkan aku dalam mempelajari ilmu-Mu
Ringankan aku dalam mengamalkan ilmu

"Wahai Dzat Yang Maha Memiliki Ilmu, berikanlah aku ilmu yang bermanfaat, rizqi yang halal, dan amalan yang diterima"

Monday, 3 November 2014

Balance

When a man stands up for himself

A conductor of his own symphony
where tragedy and triumph play in harmony
A man behind the wheel
The strongest storm can't break his will

For he has always been a soloist,
a man whose mind I can't decode,
solving the puzzle that life untold
is like living in a mine of gold.

For he is the center of my gravity
I look at him and it makes me worry
Will I ever be a part of your destiny?
Or will I just get lost in my own story?
Will I ever make room for somebody?
Am I willing to disturb my tone with your melody?

I wish I could just skip this phase
But it won't change whom I'll embrace

---------------------------------------------------------o0o-------------------------------------------------------------

Not quite a love verse
It's just some thinking that crossed my mind while studying human reproductive system
Wish me success for tomorrow's exam!